Peran Perawat dalam Ibadah,Tayamum, dan Do’a bagi Orang Sakit

Perawat sebagai orang yang selalu berada di samping pasien sebaiknya selalu menjaga pasien dalam fisik maupun bathin.Pasien sangat membutuhkan siraman rohani saat berada dalam kondisi yang sangat lemah.Ia harus menyadari bahwa cobaaan yang diberikan oleh Allah adalah untuk meningkatkan  kesabarannya dalam  menghadapi kehidupan.Selanjutnya, cobaan tersebut terkadang adalah teguran dari Allah atas perilaku kita yang tidak sehat.Di saat seperti itu, pasien harus tetap beribadah kepada Allah.Tidak ada alasan bagi seseorang untuk meninggalkan ibadah dalam keadaan apapun.Tapi ada keringanan disaat kita tidak bisa menjalankannya seperti yang diperintahkan.Subhanallah, itulah indahnya islam yang tersusun secara indah segala yang diperintahkan oleh Allah dalam al-quran maupun  hadits.

Perawat yang memiliki visi Transcendental adalah perawat yang bertujuan tidak hanya kesejahteraan di dunia tetapi pengabdian dan perilakunya ditujukan untuk ibadah dan kesesejahteraan akhirat (hereafter,afterlife,eternity).

Setiap waktu perawat selalu berada di samping pasien.Di saat itulah fungsi perawat sebagai seorang muslim untuk selalu mengingatkan sesama muslim untuk selalu mengingat Allah dengan cara beribadah kepadanya.

Adapun beberapa hal yang harus dilakukan oleh perawat dalam membantu pasien dalam beribadah diantaranya :

1.Mengingatkan untuk selalu berdzikir dan berdo’a

Untuk menstabilkan kembali kondisi tubuh, pada saat sekarang banyak para da’i yang melakukan kegiatan da’wah dengan metode dzikir. Banyak diantara para peserta yang merasakan kenikmatan, begitu asyiknya dalam lantunan dzikir bersama sehingga tidak terasa air mata menetes dengan derasnya, larut dalam suasana mahabbah ilallah. Didalam Alquran Allah SWT telah mewartakan:

Artinya: ” Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alqu’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (Al Israa’: 82)

Untuk membuktikan bahwa Alquran dapat menjadi obat, telah banyak dilakukan oleh para ulama’, ketika Alquran dibaca dengan indah maka akan membuat bulu kuduk menjadi merinding, tertegun dan terpana mendengar dan mencermati Kalamullah dibacakan, sehingga hati akan menjadi sejuk, pikiran menjadi tenang dan jiwa menjadi terasa damai, hal ini telah diwartakan oleh Allah SWT dalam Alquran surat Arro’du ayat 27-28:

Artinya:
Orang-orang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya”, (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. Arro’du: 27-28)

Oleh karena itu sebaiknya bagi kita yang sudah bisa membaca Alquran untuk membiasakan diri bertadarus Alquran dan bagi yang belum bisa untuk mendengarkan ayat-ayat ketika dibaca:

” Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”.

2.Membantu bersuci bagi orang sakit

Setiap orang akan melaksanakan suatu ibadah shalat disyaratkan harus suci dari hadast, baik hadast besar maupun kecil, hal itu berlaku juga bagi orang sakit. Tetapi bagi orang sakit karena kondisinya lemah, takut akan bertambah sakitnya n memperlambat kesembuhannya atau oleh sesuatu sebab tidak boleh terkena air maka sebagai penggantinya adalah bertayamum.

Dalil perihal diperbolehkan bertayamum :

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (QS.5:6)

artinya : “Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dan tempat buang  atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah muka dan tanganmu dengan tanah itu” (QS.Al-Maaidah:6)

Apabila pasien tidak diperbolehkan untuk terkena air karena penyakitnya maka akan dibolehkan tayamum dengan syarat-syarat seperti berikut :

1.Apabila tidak ada air atau ada air tetapi hanya mencukupi untuk

keperluan makan minum.

2. Tidak dapat menggunakan air karena penyakit yang

diderita atau membahayakan bila terkena air.

3. Apabila penggunaan air membahayakan kesehatan

dan nyawa.

Selanjutnya, syarat syah bertayamum adalah :

1.Menghilangkan najis terlebih dahulu.

2. Tanah debu yang suci.

3. Bukan dari debu tanah yang musta’mal (yang telahdigunakan).

4. Ada qasad / niat penggunaan tanah.

5. Menyapu muka dan dua tangan hingga ke siku dengan dua

kali tepuk (Tepukan pertama bagi muka dan tepukan kedua

bagi tangan).

6. Pastikan terlebih dahulu arah kiblat.

7. Bertayammum apabila telah masuk waktu solat sahaja.

8. Satu tayammum bagi satu solat fardu dan beberapa solat

sunat.

3.Mengingatkan untuk sholat lima waktu

Di saat perawat mendatangi ruangan pasien hendaknya perawat untuk elalu mengingatkan pasien untuk melakukan ibadah sholat lima waktu.Apabila pasien susah untuk melakukan sholat perawat akan membantu pasien dalam melakukan wudu’ maupun sholat.

Adapun cara shalatnya sebagai berikut:

1. Orang yang sakit harus mendirikan shalat wajib dalam keadaan berdiri, sekalipun agak miring atau sambil bersandar ke dinding atau ke tongkat.

2. Jika tidak bisa berdiri, dia bisa mendirikan shalat sambil duduk. Yang paling baik ialah duduk sambil menyilangkan kaki kiri di bawah paha kanan di tempat ruku’ dan sujud.

3. Jika tidak bisa shalat sambil duduk, maka dia berbaring pada lambungnya dengan menghadap ke arah kiblat. Yang paling baik adalah pada lambung kanan. Jika tidak memungkinkan berbaring pada lambung bagian kanan dan tidak bisa menghadap ke arah kiblat, dia bisa shalat seperti apa pun keadaannya, dan tidak perlu mengulang shalatnya.

4. Jika tidak bisa berbaring pada lambungnya, maka dia bisa berbaring menghadap ke atas, dan kedua kakinya menghadap ke arah kiblat. Yang paling baik ialah sedikit mengangkat kepalanya, agar bisa menghadap ke arah kiblat. Jika cara ini tidak memungkinkan, maka dia bisa shalat seperti apa pun keadaannya, dan tidak perlu mengulang shalatnya.

5. Orang yang sakit harus ruku’ dan sujud dalam shalatnya. Jika tidak sanggup, maka dia bisa menganggukkan kepala, dan anggukan sujud lebih rendah daripada anggukan ruku’. Jika dia bisa ruku’ dan tidak bisa sujud, maka dia harus tetap ruku’, sedangkan sujud cukup dengan menganggukkan kepala. Jika bisa sujud dan tidak bisa ruku’, maka dia harus sujud dan menganggukan kepala tatkala ruku’.

6. Jika tidak bisa menganggukkan kepala tatkala ruku’ dan sujud, maka dia bisa memberi isyarat dengan matanya, dengan sedikit memejam tatkala ruku’ dan lebih banyak memejamkan mata tatkala sujud. Sedangkan memberi isyarat dengan tangan seperti yang biasa dilakukan sebagian orang adalah tidak benar, sebab memang tidak ada dasarnya di dalam Al-Qur’an, Sunnah maupun pendapat para ulama.

7. Jika tidak bisa menganggukkan kepala atau memberi isyarat dengan matanya, maka dia bisa shalat dengan hatinya. Dia niat, bertakbir, membaca, ruku’, sujud, berdiri dan duduk dengan gerakan hatinya.

8. Orang yang sakit harus mengerjakan setiap shalat tepat pada waktunya dan mengerjakannya menurut kesanggupannya. Jika kesulitan melakukan shalat tepat pada waktunya, maka dia bisa menjama’ shalat zhuhur dan ashar, maghrib dan isya’, boleh jama’ taqdim dengan mengerjakan shalat ashar pada waktu shalat zhuhur dan shalat isya’ pada waktu shalat maghrib, maupun jama’ ta’khir, yaitu dengan mengerjakan dua pasangan ini pada waktu shalat yang kedua. Dia bisa memilih mana yang lebih mudah baginya. Sedangkan shalat subuh tidak bisa dijama’.

9. Jika orang yang sakit dalam perjalanan, karena dia hendak berobat di luar daerahnya, maka dia bisa meng-qashar shalat yang terdiri dari empat rakaat, sehingga dia bisa shalat zhuhur, ashar dan isya’ dengan dua rakaat, hingga kembali ke daerahnya, baik masanya lama maupun sebentar.

[Catatan: Kalau orang yang sakit secara tiba-tiba dalam shalat membaik, lalu bisa melakukan seluruh gerakan yang sebelumnya tidak bisa dilakukan, seperti berdiri, duduk, rukuk, sujud atau sekedar memberi isyarat, maka ia harus beralih ke cara normal untuk sisa shalatnya. -pen.]

Demikianlah beberapa ketentuan dalam al quran dalam melaksanakan ibadah bagi orang sakit.Islam adalah agama yang indah yang membuat kita merasa bahagia melaksanakan perintahNya.

REFERENSI:

(Pimpinan majelis Tarjih Muhammadiyah, buku: “Himpunan Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah”)

(Amiruddin, Aam. “Spiritual Learning dan Panduan Gerakan dan Bacaan Shalat“)

(Amiruddin, Aam. “Sudah Benarkah Shalatku?“)

(Amiruddin, Aam. “Aqidah dan Akhlak“)

(Rasjid, Sulaiman. “Fiqih Islam”)